Be my self!
Prinsip hidup aku ya seperti itu. Sekalipun tak jarang ku dengar sindiran-sindiran pedas dari tiap insan yang mengenalku. Tak jarang pula aku mengangis karna hal itu. Cukup lucu, aku meneguhkan prinsip hidupku seperti itu namun aku masih tak punya tameng untuk melindungi diriku dari sindiran-sindiran hebat yang menyerangku. Tapi itulah manusia, berbeda. Dari berjuta-juta manusia yang Tuhan ciptakan, berjuta-juta pula kepribadian yang tercipta. Termasuk, aku dan dia! Awalnya aku hanya mendapatkan sebuah pernyataan yg mungkin ku kira lelucon. Lelucon pahit! Sangat ku benci! Kau mulai membanding-bandingkan aku dengannya. Sesosok wanita yang umurnya lebih muda darimu 1 tahun, wanita yang pernah menguasai hatimu dulu. Ku benci itu! Secara tak langsung kau mulai membandingkan aku dengannya! “Nyaman” kata itu yang kau jadikan alat pembandingku dengannya! Lalu? Apa masalahmu? Masalahmu terletak pada aku yang tak bisa membuatmu nyaman dengan kehadiranku? Benarkah? Oke, aku cukup tertawa saat itu. Karna ku anggap emoticon yang kau berikan bersama sms itu menandakan kau sedang bergurau. Dan aku terima.
Selang 1 hari, 2 hari, atau mungkin berminggu-minggu aku lupa tepatnya. Kau, mengulang kata yang sama saat kita sedang bertengkar. Melalui satu pesan singkat yang kau kirimkan, kau mengakui bahwa dia lah wanita pertama yang bisa membuatmu nyaman dengannya. Membuatmu merasa betah untuk selalu disampingnya. Dan aku? Kembali kau sudutkan dengan pernyataanmu itu.
Lalu, jika begitu, untuk apa dulu kau berpaling darinya dan memilihku? Aku yang dulu tak tahu kau sudah dengannya, dengan segala fakta yang kau sembunyikan. Dengan status relationship yang kau sembunyikan menjadi single, aku tak tahu apapun saat itu. Yang aku tahu, dia adalah mantanmu. Dan ternyata, masih menjadi kekasihmu saat itu.
Oh Tuhan, kau tau betapa sakitnya rasaku saat itu mengetahui kebenarannya? Yang itu pun harus aku cari tahu sendiri tanpa melalui ucapan dari bibirmu. Sudahlah, ku anggap berlalu.
Kini aku mulai mengenalnya, mengenal dia yang kau bandingkan denganku. Wanita yang baik ku akui, tak heran jika kau lebih nyaman bersamanya. Dengan rasa bersalahku aku mulai mengenalnya, mengobrol dengannya sekalipun hanya sekedar sapaan lewat account twitterku. Aku merasa bersalah padanya, dulu aku pernah menjadi ‘pengganggu’ dalam hubungan dia denganmu. Hingga kini, aku masih merasa bersalah.
Jujur, aku menyayangimu seperti kata sayang yang sering juga kau ucapkan padaku. Namun kini aku menyadari keterbatasanku. Aku, tidaklah bisa menjadi dia. Menjadi dia yang selalu bisa membuatmu nyaman. Inilah keterbatasanku, aku menyayangimu dengan sebuah keterbatasan yang sangat ku benci. Yang membuat kau dapat membandingkanku dengan wanita masa lalumu. Tapi kenyataan tak dapat aku hindari, itulah kenyataan sebenarnya. Dan aku kini memutuskan untuk menjalani status sebagai teman denganmu. Cukup teman J karna aku sangat menyadari keterbatasanku.
Bolehku mengucap pintaku saat ini? Aku ingin kau dengannya kembali bersama. Tentu saja nanti saat dia sudah pisah dengan pasangannya yang ku ketahui dia tlah memilikinya kini.
Aku sangat berharap dia masih menyimpan perasaan yang lalu denganmu, agar kalian dapat seperti dulu lagi. Aku berjanji tak akan lagi mengganggu hubungan kalian.
Maafkan aku, aku sangat meminta maaf padamu, dan juga wanita masa lalumu. Aku harap dia bisa memaafkanku J


0 komentar:
Posting Komentar