“Ahmad, ayo nak bangun sudah siang nanti kamu terlambat ke sekolah” suara Ibu yang ku dengar dari balik pintu sambil mengetuk2 pintu kamarku.
“iya Bu, Ahmad sudah bangun kok bu”. Dengan mataku yang masih sangat berat untuk ku buka aku membuka pintu dan bergegas pergi ke belakang rumah dan menimba air untuk mengambil wudhu.
Sebenarnya keluargaku masih mampu untuk membayar listrik bulanan jika hanya ditambahkan satu jet pump, namun entahlah ibu sudah terbiasa dan mungkin lebih nyaman untuk menimba air disumur dibandingkan hanya tinggal menyiukkan air didalam bak. Akupun turut mengikuti kebiasaan ibu dan akupun menikmati itu. Ibu bilang, lebih baik uang lebih yang seharusnya kita gunakan untuk membayar listrik jika memakai jet pump dikumpulkan untuk keperluan pendidikanku. Aku selalu ingin menangis jika ku dengar kata-kata itu dari ibuku.
*-*-*
“Bu Marni, ini cucian kotornya! kalau bisa tolong nanti siang sudah rapi dan bersih semuanya ya dan jangan sampai masih kotor seperti kemarin” suara bu Dian diluar yang terdengar jelas walaupun aku berada tepat di meja makan.
“oh iya bu, saya usahakan yah” jawab ibu dengan penuh senyuman mengambil baju-baju itu dan kembali masuk ke dalam rumah.
“Bu, mengapa sih ibu tetap saja baik bahkan dengan ramah memberikan senyuman pada bu Dian? Menurut Ahmad, dia orang jahat bu. Dia sama saja menghina ibu dengan cara seperti itu! Ahmad tahu dia adalah langganan jasa cuci ibu, tapi diapun kurang hajar bu dia selalu bersikap kasar pada ibu!” ujarku pada ibu dengan nada kesal
“Ahmad, kau pun tahu setelah ayahmu meninggal beberapa tahun yang lalu hanya pekerjaan inilah yang dapat membuat kita bertahan hidup hingga saat ini, Alhamdulillah Allah masih memberikan nikmat sehat pada ibu hingga ibu masih mampu bekerja menjadi tukang cuci. Kau sudah besar, sudah kelas 3 SMA ibu yakin kau pasti mengerti dan paham betul apa yang sebenarnya kita alami. Jika ada orang yang berlaku kasar terhadap ibu dan melecehkan pekerjaan ibu, ibu tidak akan peduli karna bagi ibu pendidikan kamu dan kedua adikmu jauh lebih penting dari itu. Tak apa na, ibu tidak apa-apa” jawab ibu bijaksana dan khas dengan senyumannya membuat mataku berkaca-kaca.
“tapi ahmad tidak bisa terus menerus melihat ibu diperlakukan seperti itu. Ahmad tak tega bu, ibu adalah Ibu ahmad. Anak mana yang membiarkan ibunya diperlakukan seperti itu? Tidak ada bu! Sudahlah terserah ibu, ahmad pergi ke sekolah bu, Assalamualaikum” jawabku dengan mata sudah penuh dengan air mata dan meniggalkan ibu.
*_*_*
Bel pulang berbunyi, aku masih membereskan buku-bukuku yang berserakan di mejaku hingga kelas sudah hampir setengah sepi.
“hai kawan, ada apa? Kau terlihat murung sejak tadi masuk sekolah” Tanya Adam sahabatku.
“entahlah, aku sedang tak mood!” jawabku sambil berjalan meniggalkan kelas
“ayolah kau kenapa? Tak biasanya kau seperti ini. Ceritalah jika kau masih menganggapku sebagai sahabat”
“aku taka pa, Dam” jawabku kembali
“huh yasudahlah jika kau tak mau bercerita” jawab umar sambil menepuk pundakku.
“eh Dam, kau punya pekerjaan untukku? Apapun asal itu halal akan aku ambil” tanyaku memecahkan keheningan tadi.
“hm? Kau akan bekerja? Tak usahlah Mad, satu bulan lagi kita akan ujian. Kau tak takut akan mengganggu belajarmu? Dan bukankah ibumu pun melarang? Kau ingatkan 1 tahun yang lalu saat kau bekerja jadi loper Koran ibumu pun melarangmu dan menyuruhmu berhenti dengan alas an kau akan ujian. Dan sekarang kau malah ingin bekerja padahal tinggal 1 bulan lagi kita ujian” jelas Adam dengan panjang lebar
“aahh, sudahlah dam. Aku butuh pekerjaan, aku tak bisa berdiam diri melihat ibuku berjuang sendiri demi aku dan adik-adikku. Tolonglah dam, tolong bantu aku” jawabku memelas
“kau memang anak yang sangat baik mad. Yasudahlah jika itu keinginanmu, aku akan carikan pekerjaan untukmu”
“kau memanglah sahabatku Dam, terimakasih banyak ya” jawabku dengan senang.
Dan kami pun menaiki angkutan umum meninggalkan sekolah untuk pulang.
*_*_*
“assalamualaikum” ucapku sambil membuka pintu.
“waalaikumsalam ka” jawab Mita adikku yang pertama. Dia kini masih duduk di bangku SMP kelas 1.
“Ibu belum pulang dek? Nada juga kemana?”
“belum ka, ibu masih keliling mengembalikan cucian sepertinya. Nada sedang main kak dirumah sebelah” jawab adikku.
“oh yasudah” jawabku singkat sambil memasuki kamarku untuk berganti pakaian. Setelah itupun aku langsung membaringkan badanku dikasur. Ya Allah, sungguh entah kenapa perasaanku tak menentu pada saat itu. Aku masih memikirkan ibu, tak mungkin aku membiarkannya berjuang sendirian.
“kak, kak bangun kak sudah maghrib ayo shalat dulu” ujar mita dengan mengetuk pintuku. Tak terasa aku tadi tertidur dan baru terbangun maghrib-magrib seperti ini.
“oh, iya mit kaka sudah bangun” jawabku.
Dan kamipun semua melaksanakan shalat berjamaah.
“kau kenapa ahmad? Ibu bisa lihat dari matamu” Tanya ibu
“hmm, aku tak apa-apa bu. Mungkin hanya kecapaian bu” jawabku sambil membantu ibu menyiapkan makan malam
“benar? Sudahlah, kau tak usah fikirkan ibu. Ibu tak apa” jwab ibu kembali seakan ia dapat membaca fikiranku yang memang benar sedang memikirkannya. Dan akupun hanya terdiam.
“ayo Mita, Nada kita makan” ajak ibu pada adik-adikku.
Saat makan pun hatiku masih terasa sakit, seperti ada yang mengganjal. Aku tahu, inilah saatnya aku harus bertindak, bukan hanya menjadi penonton yang hanya menyaksikan perjuangan ibu.
*_*_*
Hari ini aku kembali sekolah dengan perasaan yang sama, perasaan yang membuatku tak menentu. Namun itu semua hanya sekejap dan hilang setelah Adam memberikanku alamat dimana aku akan menemukan pekerjaan. Aku senang, bahkan sangat senang menerimanya. Walaupun hanya bekerja menjadi cleaning service di salah satu kantor kecil milik tetangganya Adam.
“terimakasih dam, terimakasih banyak yah” jawabku penuh berterimakasih padanya dan langsung pergi ke alamat yang diberikan adam.
Aku sempat bingung dengan alamat yang diberikan oleh adam karena letaknya yang menurutku kurang strategis. Tapi Alhamdulillah aku menemukannya.
“ada yang bisa saya bantu?” Tanya seorang satpam yang menghampiriku
“hm, saya ingin melamar kerja disini pak. Dimana yah kira-kira saya bisa menyimpan CV saya?”
“oh, silahkan saja masuk didalam ada lobby, anda bisa menyimpannya disana” jawab satpam lagi
“baik pak, terima kasih banyak” jawabku sambil tersenyum dan pergi menuju lobby.
Tak seperti yang ku ketahui sebelumnya, ternyata proses interview ku berjalan dengan sangat cepat. Tak membutuhkan waktu beberapa hari untuk interview tersebut, saat itupun aku langsung di interview dan aku pun DITERIMA. Perasaan ku tak percaya, aku bahagia sekali inilah saatnya aku membantu ibu dan meringankan pekerjaannya. Walau perusahaan itu hanya menggajiku Rp. 250ribu/2bulan nya karena mereka pun baru membuka usaha tersebut namun aku sangat bahagia menerimanya. Akupun pulang dengan wajah yang ceria.
*_*_*
“dari mana ka? Kok tumben kaka baru pulang?” Tanya mita saat aku baru masuk ke dalam rumah.
“oh, hm.. tadi kaka sedang mengerjakan tugas dirumahnya Adam. Kau sudah makan?” jawabku mengalihkan pembicaraan karna aku tak mau mita tau aku sudah mendapatkan pekerjaan, aku takut mita membritahukan itu semua pada ibu.
“belum kak, ibu belum pulang dan bahan makanan dirumah sudah habis” jawab mita dengan nada yang terdengar sedih
“ini, ambil uang simpanan kaka.. walau hanya ada Rp. 25.700 tapi cukup untuk membeli nasi untuk kamu, nada, dan ibu.” Jawabku dengan memberikan uang pada mita
“lalu, untuk kaka mana? Kaka tidak makan?”
“tak usah kamu fikirkan kaka, tadi kaka sudah makan dirumahnya adam” jawabku berbohong
“oh yasudah kalau begitu mita pergi beli nasi dulu ya kak, Assalamualaikum”
“waalaikumsalam”
*_*_*
15 hari berlalu, sepertinya ibu sudah mulai curiga dengan tingkahku yang semakin hari mungkin semakin tak wajar dihadapan ibu. Pulang sekolah selalu telat, datang kerumah pun aku terkadang langsung tertidur dan tak belajar padahal ujian tinggal 15 hari lagi.
Aku memang merasa bekerja menyita seluruh waktuku, waktuku untuk beristirahat, dan waktuku untuk focus dengan ujianku. Namun inilah pilihanku, aku rela asalkan dengan ini aku bisa membantu ibu.
“ahmad, katakan yang sebenarnya pada ibu. Sebenarnya kau kenapa? Ibu melihat kau beda sekali tak seperti ahmad yang biasanya. Jujurlah nak” Tanya ibu padaku
“aku taka pa bu, memangnya aku kenapa? Aku baik-baik saja bu”
“kamu tidak berniat untuk membohongi ibu kan? Ibu tahu kamu nak, ibulah yang membesarkanmu, ibu tau semua tentangmu. Janganlah kamu berbohong pada ibu, nak” ibu mencoba membujukku. Aku sempat bingung sekali apa yang harus ku jawab, kata-kata ibu membuatku membisu tak bisa lagi berkata-kata, dan ibu meneruskan pembicaraannya
“ahmad, maafkanlah ibu jika ibu hanya bisa memberimu nafkah seperti ini. Tidak bisa memberikan fasilitas lebih untukmu. Terkadang ibu merasa gagal menjadi seorang ibu karna tak bisa membahagiakan anaknya, namun ibupun bingung, ibu tak punya uang lebih nak. Maafkan ibu yah” dengan menangis ibu berkata itu padaku
“ibu, ibu tak pernah gagal menjadi seorang ibu yang baik untuk ahmad, mita, dan nada. Bagi kami, ibu adalah ibu yang paling baik yang ada di dunia ini, kami tak perlu fasilitas lebih, kami tak perlu segala sesuatu yang sifatnya mewah, yang kami inginkan hanya satu bu, kami hanya ingin ibu panjang umur sehingga ibu selalu ada untuk kami, selalu menemani kami, membimbing kami dengan kasih saying ibu. Hanya itu yang kami inginkan, bu” jawabku dengan memeluk ibu dan akupun menangis. Suasana menjadi hening namun aku dan ibu tetap menangis.
“ahmad, berjanjilah pada ibu kau akan belajar dengan giat. Berjanjilah pada ibu kau harus menjadi anak ibu yang sukses, yang bisa mencapai cita-citamu, ibu kan bangga sekali nak melihatmu sukses kelak, ibu akan menjadi ibu yang paling berbahagia di dunia ini. Berjanjilah pada ibu kau akan dapatkan beasiswa itu, beasiswa ke luar negeri yang pernah kau ajukan. Hanya tinggal satu langkah lagi, dengan nilai-nilai ujianmu yang rata-rata 92,00 kau akan mendapatkan itu dan ibu akan bangga sekali padamu” ucap ibu memecahkan keheningan
“aku janji bu, aku janji pada ibu aku akan mendapatkan beasiswa itu dan membuat ibu menjadi ibu paling bahagia di dunia ini” jawabku dengan senyuman dan mengusap air mata ibu.
Malam itu terasa haru, namun di malam itupun aku dapat merasakan kasih saying yang sangat besar dari ibu terhadapku dan adik-adikku.
*_*_*
Besok aku akan menghadapi ujian nasional, inilah kunci terakhir yang harus aku dapatkan untuk membuka kesempatan beasiswa ke luar negeri itu. Aku harus berusaha keras, aku tidak akan menyia-nyiakan kunci ini, aku akan berusaha dengan keras agar bisa membahagiakan ibu. Namun aku bingung sekali, kini waktu sudah menunjukan pukul 18.00 WIB namun aku belum pulang ke rumah, aku masih berada di tempat kerja. Bosku memintaku untuk lembur karena ada acara syukuran kecil-kecilan di kantor ini. Sungguh aku ingin berkata tidak untuk menolak, tapi beliau pun memohon padaku untuk tetap disini dan sebagai imbalannya aku akan mendapatkan tambahan gaji bulan depan. Akhirnya akupun terpaksa untuk menerimanya, entahlah mungkin ibu akan marah padaku karna jam pulangku yang terlalu larut.
Pukul 23.45 aku baru pulang dari tempat kerjaku, aku memasuki pintu rumah dengan perlahan agar tidak membangunkan ibu dan adik-adikku. Saat aku sudah memasuki rumah, aku terkejut melihat ibu yang tertidur di sofa di ruang tamu. Dan ibu terbangun saat ku akan menghampirinya.
“ahmad, kau darimana saja? Ibu mencemaskanmu, kau taka pa?” Tanya ibu menghampiriku
“ibu maafkan aku, aku pulang terlalu larut. Tadi aku membantu adam bu, motornya hilang dicuri oleh orang. Maafkan aku ya bu, ibu kenapa tertidur di sofa?” jawabku berbohong pada ibu
“innalillahiwainnailairojiun, kasihan sekali adam. Lalu sekarang motornya sudah ditemukan? Tadi ibu menunggumu, ibu takut ada sesuatu yang terjadi padamu. Eh tapi ibu malah tertidur” jawab ibu dengan nada sedikit tertawa
“tapi syukurlah kau taka pa, segeralah masuk ke kamar. Besok kau akan ujian, kau harus banyak istirahat” ucap ibu lagi dengan senyumannya
“baik bu, ahmad pergi ke kamar dulu yah bu” dengan mencium tangan ibu aku pergi menuju kamar.
Aku menutup kamar dengan rasa sangat bersalah karena telah membohongi ibu, Ia rela menungguku hingga tertidur di sofa hanya karena takut ada sesuatu yang terjadi padaku, tapi aku malah membalasnya dengan cerita palsu karanganku. Maafkan aku ibu, hanya itu yang mampu ku ucapkan dalam hatiku.
*_*_*
2 minggu berlalu, lewatlah sudah ujianku. Aku merasa aku mampu mengerjakan soal-soal tersebut namun aku masih merasa sangan takut dan ragu, apakah aku lulus? Apakan aku akan mendapatkan beasiswa itu? Perasaan itu sangat mengganggu fikiranku saat ini. Namun inilah waktunya, hari inilah aku akan mengetahui semuanya. Aku hanya tinggal menunggu tukang pos datang kerumahku membawa surat yang sangat aku tunggu-tunggu.
Dan kini, aku telah mengetahuinya, aku dinyatakan LULUS. Subahanallah aku sangat bahagia sekali. ibu, mita, dan nada memelukku dengan wajah bangga karna aku dinyatakan lulus dengan nilai rata-rata diatas 93,00 dan aku mendapatkan beasiswa ke luar negeri tersebut. Aku menangis, ibupun menangis, kami menangis bahagia. Ibu terus memelukku dengan erat dengan isak tangis bahagianya, aku bahagia sekali aku bisa membahagiakannya.
*_*_*
Besok adalah hari keberangkatanku ke Inggris, tempat dimana aku mendapatkan beasiswa tersebut. Segala tiket dan paspor pun telah siap, juga dengan segala kebutuhan-kebutuhanku untuk disana nanti. Ibu, mita, dan nada membantuku untuk menyiapkan itu semua.
“ibu sangat bangga terhadapmu nak, ibu bangga sekali mempunyai anak sepertimu. Baik-baik disana yah, kau harus sukses, jaga adikmu, jika nanti ibu telah tiada, ibu akan ihlas dan lega meninggalkanmu dan adik-adikmu jika kau sudah menjadi orang yang berhasil. Apapun yang terjadi nanti, jangan pernah kau menghentikan langkahmu, teruslah kau kejar mimpi dan cita-citamu nak” ujar ibu menasihatiku,
“ibu, ahmad tak suka ibu berkata seperti itu. Ibu ingat kan, ahmad ingin ibu panjang umur, agar ibu selalu ada diantara kami dan jika ahmad sukses nanti, ahmad ingin membahagiakan ibu. Ibu segalanya untuk ahmad, ahmad tak berarti apa-apa, tak berguna jika tanpa ibu. Ibulah yang mengajarkan ahmad segalanya, tanpa lelah, tanpa letih ibu selalu berusaha untuk selalu membahagiakan anak-anak ibu, selalu menutupi airmata ibu tak pernah sekalipun menunjukkannya pada kami. ibu adalah ibu terbaik di seluruh dunia untuk ahmad, mita, dan nada” jawabku memeluk ibu.
Entahlah aku merasa berat sekali meninggalkan ibu, aku sedih sekali harus berada jauh dari ibu, jika aku bisa memilih aku lebih baik mendapatkan beasiswa dalam negeri agar tak berada sangat jauh dari ibu. Namun, inilah yang ibu inginkan, aku akan lakukan ini untuk ibu.
*_*_*
Waktu sudah menunjukan pukul 09.00 WIB, setengah jam lagi aku harus segera pergi ke bandara agar tak tertinggal oleh pesawat keberangkatanku. Namun aku memustuskan untuk berangkat sekarang, karena cuaca yang terlihat sangat mendung sedangkan aku harus mencari taksi dulu untuk pergi ke bandara.aku takut jika nanti hujan akan menyulitkanku untuk mencari taksi. Baru saja aku keluar rumah dan berpamitan dengan ibu, hujan pun turun sangat deras. Aku bingung harus bagaimana, sedangkan dirumah tak ada paying, hanya ada satu payung namun itupun sudah rusak. Aku gelisah, aku takut ketinggalan pesawat keberangkatanku jika aku berniat untuk menunggu hujan berhenti. Hingga aku meminta tolong pada mita untuk meminjam payung pada tetangga di sekitar rumahku, namun ibu melarang.
“tak usah mit, biar ibu saja ya yang meminjamkan payung untuk kakamu pada tetangga” ucap ibu
“ibu, tidak bu keadaan sedang hujan deras. Ibu bisa sakit, biarlah mita saja, fisik mita masih kuat bu” jawabku melarang ibu.
“taka pa ahmad, ibu ingin melakukan sesuatu terakhir kalinya untukmu sebelum kau pergi ke luar negeri. Tunggu ya, ibu akan segera kembali” jawab ibu dengan langsung pergi meninggalkan rumah tanpa sempat ku larang kembali.
Sudah 25 menit berlalu, namun tak ada tanda-tanda kedatangan ibu membawa payung. Aku merasa khawatir, aku takut sesuatu terjadi pada ibu. Aku semakin gelisah saat aku lihat sudah lewat dari 30 menit. Aku bangun dari dudukku dan berniat menunggu ibu di depan rumah, namun saat aku baru saja keluar dari rumah, aku melihat Arman anak tetanggaku berlari menuju rumahku dengan memanggil-manggil namaku.
“ka ahmad, ka ahmad…….” Teriak arman dari kejauhan.
“ada apa arman? Mengapa kau berlari dan berteriak-teriak seperti itu?” tanyaku saat arman sudah ada dihadapanku
“itu ka, itu bu Marni ibu kaka kecelakaan. Bu marni tertabrak truk di jalan sana ka” jawab arman. Sungguh jawaban itu membuatku lemas tak berdaya, akupun sempat terjatuh ke lantai dan arman membantuku dengan memegangi tanganku. Mita dan nada pun segera menghampiriku dan menahan tubuhku. Mereka menanyakan apa yang terjadi, ketika mereka tau, mita dan nada pun menangis. Dan kami semua langsung pergi ke rumah sakit dimana ibu dibawa.
Namun, dokter mengatakan ibu telah meninggal sebelum ia dibawa ke rumah sakit ini, ibu kehilangan banyak darah, dan ada pendarahan hebat di kepalanya akibat kecelakaan itu.
Aku, mita, dan nada tak kuasa menahan tangis. Kami sangat terpukul, kini orang yang sangat kami sayangi, orang yang sangat berharga untuk kami telah tiada, tiada lagi kini tawanya, tak ada lagi kini candanya, tak ada lagi kini amarahnya, dan tak dapat lagi kami rasakan kasih besar darinya.
Aku tak percaya, sangat tak percaya ini semua terjadi. Tubuhku terasa lemas, aku tak dapat merasakan semua anggota tubuhku, yang aku rasakan hanya rasa sakit yang sangat besar karna kehilangan orang yang sangat berharga untukku.
Aku memutuskan untuk menggagalkan rencanaku pergi ke luar negeri, aku tak mungkin meninggalkan mita dan nada dengan keadaan seperti ini. Namun pamanku, adik dari ibuku yang kini berada di rumah sakit menemaniku dan adik-adikku menolak keras keputusanku.
“ahmad, kau harus ingat ibumu sangat menginginkan ini. Ibumu ingin kau raih cita-citamu, ibumu ingin kau pergi ke inggris untuk melanjutkan study mu. Apa kau ingin menghancurkan harapannya padamu? Walau kini ia telah tiada, tapi bukan berarti kau melupakan harapan besarnya. Kau harus tetap pergi, cepatlah masih ada waktu 30 menit lagi untuk keberangkatanmu. Kau tak usah hiraukan mita dan nada, mereka akan tinggal bersama paman. Paman akan menjaganya, cepatlah. Jangan kau hancurkan harapan ibumu, ahmad” ucap pamanku
Aku tersadar dengan kata-kata paman, dan akupun kembali memutuskan untuk tetap pergi dan mewujudkan semua harapan ibu. Sebelum aku pergi, aku memasuki ruangan dimana ibu tertidur dengan lelapnya di tutupi oleh selimut rumah sakit, aku tak dapat menahan air mataku kembali. Aku membuka sedikit selimutnya, dan aku mencium kening ibu.
“ibu, aku berjanji akan selalu mengingat pesan-pesanmu, berjanji akan mewujudkan semua harapanmu. Akan ku buktikan bu, kelak jika ku kembali aku akan menjadi orang sukses dan membuat ibu bangga memiliki anak sepertiku. Terima kasih ibu, aku sangat mencintaimu” ucapku dengan tangis dan kembali mencium pipi ibu.
Aku bergegas pergi ke bandara, dan syukurlah aku tak tertinggal pesawat. Kini aku berada di Inggris, melanjutkan study ku dan akan mewujudkan semua harapan ibu...
"Ibu, semua kasihmu akan selalu terkenang olehku, semua jasamu takkan pernah aku lupakan hingga nanti, hingga akhir dari tetesan darahku, dan akhir dari detakan jantungku.....
Aku Menyayangimu"
Aku Menyayangimu"

