Getar dan suara panggilan di handphone Mozza berbunyi, dan tertera dalam tampilan LCD nya sebuah nomer baru yang tidak ada dalam buku telepon handphonnya. Ia mengangkat, namun tidak untuk menyapa si penelpon misterius itu duluan, Mozza memilih untuk diam dan menunggu si penelpon itu menyapanya duluan.
"hai Mos, apa kabar?"
Suara itu yang terdengar pertama kali oleh Mozza. Suara yang ia kenal, suara yang sangat ia kenal. Dadanya berdegup kencang, namun Mozza hanya diam. terpaku dan membisu ketika kata yang kedua terdengar "hallo Mos, hallo? ini aku, Arnold"
Ucapan itu seakan menjadi kilatan hebat dalam hati Mozza, Ia segera menekan tombol dan mematikan Handphonenya. Sebuah butiran-butiran kecil, kini mengalir di pipinya. Sebuah air mata...
Dalam tangisnya, fikiran mozza melayang, menjelajah waktu, hingga terbayang semua ingatannya hingga 5tahun yang lalu.
Arnold, sosok yang tentu sangat ia kenal. Sosok yang pernah dan sangat dikenal oleh hatinya.
Sesosok laki-laki yang pernah membuat Mozza terjatuh dalam lingkaran yang disebut cinta. dan Lingkaran yang menjerat hingga akhirnya menyakiti Mozza.
Arnold, sosok yang sangat pernah membuatnya merasakan keindahan cinta sebagai anugerah terindah yang Tuhan berikan..
Kini ingatannya kembali menggambarkan kisahnya dengan Arnold, bagai kaset film yang sedang di putar dalam DVD player. namun tanpa tombol stop, yang tidak bisa Mozza hentikan. Fikirannya dan ingatannya terus memputar tiap satuan detail dari kisahnya..
Teringat Arnold yang tepat 5 tahun lalu menyapanya dengan sentuhan lembut, yang kemudian sentuhan itu berubah menjadi sentuhan kasih yang indah, yang menghanyutkan Mozza didalamnya..
Ia sangat mencintai Arnold, menyayanginya sebagaimana mestinya jalinan kasih mereka. Hari demi hari awal mereka memulai hubungan terasa indah, tak pernah Mozza merasakan sakit dan terjatuh dalam kesakitan hubungannya. Arnold, sosok yang saat itu sangat ia puja, tanpa setitik pun cacat dalam dirinya. Sempurna, itulah kata yang Mozza berikan pada Arnold.
Sosok Arnold yang dewasa, penyayang, bagi Mozza ia seperti duplikat dari ayahnya yang telah lama meninggalkan Mozza dan keluarganya. Sebuah kasih yang belum pernah lagi di dapatkan Mozza, kini ia merasakan kasih itu lagi dari seorang Arnold. Membuat Mozza terbuai dan selalu ingin berada disampingnya.
sikap Arnold pun yang kala itu terlihat baik, tanpa cacat dimata Mozza membuat butiran cintanya semakin besar dan tertanam dalam disudut hatinya.
1 tahun 2 bulan jalinan kasih itu terjalin, tanpa luka mendalam yang dirasakan Mozza. Tepatnya, sebelum hari itu tiba..
12 november 2007
Mozza mendapat surat undangan pesta ulang tahun dari Clara, teman 1 kampusnya. Aneh dirasakan Mozza, Clara sosok angkuh yang selama ini ia kenal mengundangnya dalam sebuah acara pesta ulang tahun. Tapi Mozza terlalu baik, ia berfikir positif tanpa lagi memperdulikan ketidaksukaan yang Clara tunjukan selama ini padanya.
Jam 07.00 pm waktu dimulainya acara. Mozza terpaksa datang menggunakan taksi dan datang seorang diri walaupun dalam surat undangan tertera untuk membawa pasangan. Arnold sedang sibuk, ia tidak bisa menemani Mozza seperti biasanya. Namun hal itu tidak mengurungkan niat Mozza untuk datang ke acara pesta ulang tahun Clara. dan pesta berjalan dengan semestinya.
Kini pesta telah mencapai acara puncaknya, dengan Clara yang berdiri di depan semua tamu undangan dengan kue yang sangat besar, Clara pun terlihat sangat cantik dengan gaun putihnnya. Seperti putri-putri dalam dongeng fikir Mozza.
Acara tiup lilin dan potong kue berjalan dengan baik, hingga Clara mengumumkan sesuatu. Ia akan mengenalkan tunangannya, sosok orang yang sangat ia cintai. Suasana menjadi ramai kala itu, semua bersorak dan ingin mengetahui siapa tunangan Clara. begitu pun dengan Mozza.
namun tiba-tiba semua lampu mati, dan seketika ruangan menjadi gelap. tak lama kemudian, lampu menyala kembali, terlihat kini sesosok pria memakai topeng sedang berlutut di depan Clara dengan membawa bunga untuk Clara. Semua bersorak, Mozza pun senyum dan tertawa kecil melihanya. So sweet dalam fikiran Mozza dan teringat Arnold yang pernah melakukan hal sama padanya. hingga pria tersebut melepas topengnya.
Bagai petir yang menghampiri Mozza saat itu. bukanlah sosok asing yang ia lihat, bukanlah sosok yang ia tak kenal. melainkan sosok yang sangat ia kenal, sosok yang sangat dekat dengannya.
Ia Arnold! Pria yang selama ini menemani Mozza, pria yang selama ini selalu menghapus air mata Mozza menjadi tawa. Pria yang senantiasa menjaga Mozza. dan Pria yang berjanji akan selalu berada disisinya.
Air mata kini tak dapat lagi ia tahan, dengan semua tepukan tangan dan tawa-tawa yang keluar dari tiap tamu undangan, juga Clara dan Arnold. Mozza pergi dan berlari meninggalkan pesta. Malam itu terasa sangat berat untuknya.
Keesokan hari, tak ada pesan singkat, tak ada telpon dari Arnold. Ia seperti hilang bagai ditelan bumi. Sekalipun Mozza memberanikan diri untuk menghubungi Arnold meminta penjelasan, hanya suara operator yang terdengar. Handphone Arnold tidak lagi aktif.
Seminggu, sebulan, dan hingga 2 bulan Mozza tetap saja mencoba menghubungi Arnold. Namun nomer Arnold tetap tak pernah aktif lagi. Arnold benar-benar hilang dengan kepindahan Clara juga ke Amerika. Mozza tak bisa menanyakan Arnold pada Clara. Kini, perasaan Mozza tergantung, juga dengan hubunganny dengan Arnold.
Tak ada kepastian berlanjut dan berakhirnya hubungan mereka. Mozza sangat terpukul, ia berubah. berubah bukan lagi menjadi Mozza seperti biasanya. Mozza kini menjadi Mozza yang sangat pemurung, badannya menjadi kurus dengan sikapnya yang tak mau makan.
Keluarga Mozza sangat khawatir, dan memutuskan Mozza untuk dipindahkan sementara ke Australia. ke tempat tantenya agar ia bisa menenangkan diri.
5 tahun kemudian Mozza kembali ke Indonesia, dengan Mozza yang baru. dengan Mozza yang sudah kembali dengan senyumnya.. Mozza tak pernah lagi mengingat kejadian malam itu, bagai sebuah peristiwa yang tak pernah terjadi dalam dirinya.
namun kini, Arnold kembali datang dikehidupannya. dengan segala hal dan usaha besar Mozza melupakan semuanya, kini Arnold kembali datang tanpa rasa bersalah.
Mozza kembali mengingat semuanya, mengingat semua peristiwa pahit 5 tahun lalu dengan sebuah telpon dari sosok yang pernah menyakitinya. Entah Arnold tahu darimana nomer ponsel Mozza kini, tapi itu yang membuat Mozza kembali mengingat semuanya.
Lukanya yang telah kering, kini menjadi basah dan terbuka kembali..
Mozza hanya bisa diam terpaku dalam tangisnya.. dalam tangis dan jeritan hatinya.......
"Kau datang kembali disaat hatiku sudah melupakanmu"

